Skip to content Skip to footer

Tradisi Saparan

Sejak abad ke‑17

Di Desa Jatinom, Klaten, tradisi Saparan Bekakak digelar setiap tahun sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Upacara ini terkait dengan sosok Kyai Ageng Gribig, yang menurut legenda gugur setelah menahan lahar Merapi demi keselamatan rakyat. Bekakak (replika manusia dari ketan) dilempar ke sungai sebagai simbol pengorbanan dan penolak malapetaka.

Acara diawali dengan kirab desa, sesaji dipersiapkan, diikuti doa lintas agama. Ratusan warga dan pengunjung berebut memungut potongan ketan bekakak, dipercaya membawa rezeki. Peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya UGM mencatat bahwa tradisi ini memadukan kosmologi Jawa dengan kepercayaan agraris.

Sejarah tradisi ini muncul sebagai respons terhadap alam Merapi yang sering murka. Masyarakat Jatinom membentuk sistem tolak bala melalui simbol Bekakak. Cerita pengorbanan Kyai Gribig terus dirawat sebagai nilai moral dan spiritual.

Pemerintah kabupaten Klaten menjadikan acara ini sebagai bagian dari agenda wisata budaya. Wisata edukatif dirancang agar pendatang bisa memahami makna sesaji, tari, dan musik gamelan yang ikut mengiringi acara.

Kegiatan ini juga sering dijadikan bahan skripsi mahasiswa yang meneliti hubungan masyarakat desa dengan lingkungan gunung. Hasil riset menunjukkan bahwa Saparan menjadi cara masyarakat mempertahankan harmoni antara manusia dan alam.

Saat acara, langit Jatinom dipenuhi asap dupa dan suara gamelan iringan, menciptakan atmosfer magis. Tiap titik tradisi seperti tempat dadu dan awal ritual dipandu sesepuh desa agar tetap lestari.

Nilai kekuatan tradisi ini juga diabadikan dalam buku “Warisan Budaya Klaten” oleh Dinas Kebudayaan setempat.

Leave a comment