Skip to content Skip to footer

Sendang Sinongko

Desa Pokak, Kecamatan Ceper, menyimpan kisah mistis yang terlupakan oleh banyak orang: Sendang Sinongko. Konon, Sri Susuhunan Pakubuwono IV mengunjungi tempat ini dan membuang biji nangka sebagai tanda kedamaian. Ajaibnya, dari biji itu tumbuh pohon nangka yang tidak biasa — berbuah manis sepanjang masa dan menebar harum hingga lingkungan sekitarnya. Penduduk pun percaya, air sendang ini bukan sekadar sumber mata air biasa, melainkan simbol spiritual dan kesuburan.

Dalam beberapa dokumen lokal, sendang ini sudah menjadi tempat semedi bagi para pertapa dan pemimpin spiritual. Masyarakat percaya, jika seseorang mandi di air sendang saat malam Jumat Kliwon, ia akan mendapatkan ketenangan batin dan petunjuk hidup. Tak heran, banyak peziarah dari kota lain datang diam-diam untuk ngalap berkah atau mencari wangsit.

Ritual Bersih Sendang Sinongko menjadi agenda tahunan yang ditunggu banyak warga lokal maupun diaspora. Prosesi diawali dengan kirab budaya, doa bersama, dan pembagian sesaji—terutama nasi tumpeng dan ingkung ayam—yang dianggap membawa berkah. Ada juga doa lintas agama yang menunjukkan sikap toleransi reli­gious masyarakat desa.

Secara arkeologis, kawasan sendang juga menjadi lokasi temuan artefak dari abad ke‑19, termasuk pecahan keramik Cina dan alat pertanian tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa sendang bukan hanya pusat spiritual, tapi juga pusat kehidupan ekonomi masyarakat agraris masa lalu.

Peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dan Dinas Kebudayaan Klaten mencatat ritual ini sebagai bagian sistem kepercayaan lokal yang berkelanjutan. Mereka juga menyiapkan brosur edukatif dan audio guide untuk wisata budaya di sini.

Nilai budaya Sendang Sinongko juga diangkat dalam program film dokumenter “Jejak Air Berkah” oleh platform budaya nasional. Visualisasinya memperlihatkan sendang yang berkilau di bawah sinar senja, membentuk siluet pohon nangka yang megah.

Kini, sendang ini tak hanya menjadi tujuan spiritual tapi juga objek wisata religi dan ekowisata. Pengunjung yang datang di hari biasa bisa menikmati pemandangan alam dan cerita sejarah dalam paket wisata edukatif.

Sumber:

Wawancara Budaya, Dinas Kebudayaan Klaten (2022)

Leave a comment