Skip to content Skip to footer

Jejak Spiritualitas Abad ke-18 dari Langgar Kalimasada

Masjid dan Makam Masajen yang terletak di wilayah Klaten, Jawa Tengah, merupakan saksi bisu perjalanan spiritual dan budaya masyarakat Jawa dari abad ke abad. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga sebuah tapak sejarah yang menyimpan nilai luhur Islam Jawa sejak abad ke-14.

Awalnya, bangunan ini dikenal sebagai Langgar Kalimasada, didirikan sekitar tahun 1385 Masehi, pada masa ketika Islam mulai menyebar ke kawasan pedalaman Jawa. Nama Kalimasada sendiri memiliki makna filosofis yang dalam, terinspirasi dari naskah pewayangan sebagai simbol kekuatan spiritual dan moralitas. Langgar ini menjadi pusat pengajaran agama dan budaya lokal yang membumi dalam kearifan Jawa.

Pada awal abad ke-18, langgar ini mengalami pemugaran besar-besaran oleh Keraton Surakarta, dan diberi nama baru: Masjid Al Makmur Masajen. Pemugaran ini bukan hanya untuk memperluas fungsinya, tetapi juga memperkuat peran masjid sebagai poros komunitas sekaligus monumen spiritual yang terikat erat dengan kekuasaan dan legitimasi kerajaan. Keraton Surakarta kala itu giat melakukan restorasi dan pembangunan masjid-masjid sebagai bagian dari dakwah Islam dan penguatan hegemoni budaya Jawa-Islam.

Keunikan Arsitektur: Simbolisme dan Keindahan Jawa Klasik

Salah satu ciri khas Masjid Masajen adalah arsitektur tradisional Jawa yang sangat kental. Bangunan utama masjid memiliki atap tumpang tiga, yang dalam filosofi Jawa melambangkan tiga tingkatan spiritual manusia: ngelmu (ilmu), laku (perilaku), dan rasa (penghayatan batin). Atap ini disangga oleh soko guru dari kayu jati tua, bahan yang lazim digunakan dalam bangunan keramat karena dianggap memiliki kekuatan magis dan daya tahan tinggi.

Puncak atap dihiasi mustaka dari terakota, bukan logam mulia seperti pada masjid-masjid modern, melainkan tanah liat bakar yang menunjukkan keterikatan dengan bumi dan kerendahan hati sebagai inti spiritualitas Jawa-Islam. Tidak hanya sebagai estetika, material ini melambangkan prinsip sumeleh dan nrimo, yaitu menerima kehendak Tuhan dengan hati lapang.

Kompleks Makam Pangeran Ngurawan: Warisan Leluhur yang Dihormati

Di sebelah barat masjid, berdiri kompleks makam Masajen yang tenang dan teduh. Di antara makam-makam tersebut terdapat pusara Pangeran Ngurawan, tokoh yang diyakini sebagai pendiri Langgar Kalimasada sekaligus penyebar Islam di kawasan ini. Makamnya dikeramatkan oleh masyarakat sekitar dan sering diziarahi, terutama pada malam Jumat dan bulan-bulan tertentu dalam kalender Jawa seperti Sura dan Maulud.

Keberadaan makam ini menjadi bukti integrasi antara Islam dan budaya lokal Jawa yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap leluhur dan para wali. Seperti makam-makam keramat lainnya di Jawa, kawasan ini juga menjadi pusat spiritualitas masyarakat, tempat berdoa, mencari berkah (ngalap berkah), serta merefleksikan kehidupan.

Warisan Hidup yang Terus Dijaga

Masjid dan Makam Masajen hingga kini tetap aktif digunakan. Setiap tahun, masyarakat sekitar mengadakan ritual haul atau peringatan wafatnya Pangeran Ngurawan, lengkap dengan doa bersama, pembacaan manaqib, dan sedekah makanan khas Jawa. Tradisi ini bukan hanya sebagai peristiwa keagamaan, tetapi juga perayaan budaya yang mengikat generasi masa kini dengan akar sejarah mereka.

Pemerintah daerah dan masyarakat terus berupaya melestarikan bangunan ini melalui pemeliharaan rutin, kegiatan edukatif, serta pencatatan sejarah lisan dari tokoh-tokoh desa. Dengan semangat kolaboratif, Masjid dan Makam Masajen tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga living heritage yang menghidupkan kembali warisan spiritual dan arsitektural Nusantara.