Permata Mata Air Warisan Alam dan Sejarah KlatenDi tengah hamparan alam pedesaan Klaten, tepatnya di Desa Cokro, Kecamatan Tulung, mengalir sebuah sumber kehidupan yang telah ada sejak berabad-abad silam: Umbul Cokro. Dikenal sebagai salah satu situs alam tertua di Jawa Tengah, Umbul Cokro bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga bagian dari jejak sejarah dan…
Simbol Spiritualitas dan Akulturasi di Puncak Bukit JawaTerletak di atas teras bukit bertingkat, Masjid Gala adalah salah satu peninggalan bersejarah yang memadukan nilai spiritual Islam dengan warisan budaya Hindu dan arsitektur tradisional Jawa. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lambang akulturasi budaya yang harmonis dan kaya makna filosofis.Bangunan…
Jejak Spiritualitas Abad ke-18 dari Langgar KalimasadaMasjid dan Makam Masajen yang terletak di wilayah Klaten, Jawa Tengah, merupakan saksi bisu perjalanan spiritual dan budaya masyarakat Jawa dari abad ke abad. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga sebuah tapak sejarah yang menyimpan nilai luhur Islam Jawa sejak abad ke-14.Awalnya, bangunan ini dikenal…
Sejak abad ke‑17Di Desa Jatinom, Klaten, tradisi Saparan Bekakak digelar setiap tahun sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Upacara ini terkait dengan sosok Kyai Ageng Gribig, yang menurut legenda gugur setelah menahan lahar Merapi demi keselamatan rakyat. Bekakak (replika manusia dari ketan) dilempar ke sungai sebagai simbol pengorbanan dan penolak malapetaka.Acara diawali dengan…
Tahun: Sekitar 842 M (Abad ke‑9)Candi Plaosan terletak di desa Bugisan, Prambanan, Klaten, dibangun oleh Rakai Pikatan dan istrinya Pramodhawardhani sebagai simbol cinta dan toleransi antaragama. Rakai Pikatan beragama Hindu, sementara istrinya penganut Buddha Tantrayana. Kompleks ini terdiri dari dua kelompok utama: Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, menampilkan stupa Buddha dan arca Hindu berdampingan.…
Desa Pokak, Kecamatan Ceper, menyimpan kisah mistis yang terlupakan oleh banyak orang: Sendang Sinongko. Konon, Sri Susuhunan Pakubuwono IV mengunjungi tempat ini dan membuang biji nangka sebagai tanda kedamaian. Ajaibnya, dari biji itu tumbuh pohon nangka yang tidak biasa — berbuah manis sepanjang masa dan menebar harum hingga lingkungan sekitarnya. Penduduk pun percaya, air sendang…
