Tahun: Sekitar 842 M (Abad ke‑9)
Candi Plaosan terletak di desa Bugisan, Prambanan, Klaten, dibangun oleh Rakai Pikatan dan istrinya Pramodhawardhani sebagai simbol cinta dan toleransi antaragama. Rakai Pikatan beragama Hindu, sementara istrinya penganut Buddha Tantrayana. Kompleks ini terdiri dari dua kelompok utama: Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, menampilkan stupa Buddha dan arca Hindu berdampingan.

Setiap relief di candi ini punya makna filosofis: relief bodhisattva tengah duduk bermeditasi berdampingan dengan simbol trisula Siwa. Arsitekturnya memperlihatkan penyatuan dua paham keagamaan yang berbeda dalam harmoni estetis. Hal ini memberi pesan penting bahwa toleransi dalam keberagaman adalah nilai yang lama ada dalam budaya Jawa.
Peneliti sejarah purbakala seperti J.G. de Casparis dan tim Balai Pelestarian Cagar Budaya mencatat perkembangan restorasi Plaosan sejak 1930-an. Pemugaran besar dilakukan pada tahun 1990-an dengan teknologi modern, termasuk pemasangan papan informasi dan arah kunjungan wisata.
Saat ini, Candi Plaosan menjadi salah satu destinasi wisata edukatif, dengan panduan audio dan buku saku tersedia di gerbang. Acara tahunan seperti Festival Candi Kembar juga digelar oleh pemerintah lokal untuk memperingati simbol perdamaian dan sejarah ini.

Pengunjung sering kali diundang untuk melihat upacara meditative dance sambil dikelilingi relief candi. Ini menjadi sajian budaya yang menghubungkan masa lalu dan masa kini secara indah dan edukatif.
Nilai sejarahnya tidak hanya arsitektural, melainkan nilai spiritual, simbolis, dan budaya. Plaosan menginspirasi banyak diskusi akademik soal toleransi dan integrasi agama di Jawa abad ke‑9.
Sumber:
- Laporan BPCB Jateng, artikel Jawapos (2022)
- Studi oleh J.G. de Casparis dan past batch restorasi
